Sebuah Kado dari Ampera
Monday, April 18, 2011 | Irwan_Koq
Mungkin judulnya terasa aneh, tapi saya gak punya ide lain buat bikin judul, yang terlintas cuma itu "Sebuah Kado dari Ampera".
Bagi sebagian orang, merantau itu mungkin sesuatu yang mengasyikkan. Hidup sendiri di kota asing yang semuanya asing, bahasanya asing, watak orang-orangnya asing, tempatnya asing. Mungkin memang benar kata pepatah, "Dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung". Terkadang kesel menghadapi tingkah laku orang-orang di sekitar. Dan akhirnya terpaksa mengeluarkan tawa, hehehe, sekedar untuk menghargai yang melucu, meskipun sama sekali tidak lucu, yang ada malah bikin marah.
Suka duka hidup di luar kota, jauh dari rumah bermacam-macam dihadapi. Rindu pada kampng halaman sudah pasti dirasakan. Dan pada kenyataannya, yang mendorong keinginan untuk pulang bukan hanya rindu pada kampung halaman, tetapi juga karena berbagai tekanan dan beban yang ditanggung jauh lebih besar.
Bekerja di luar kota, kita tidak hanya menjadi seorang enggineer. Tetapi kita juga diituntut untuk menjadi sekretaris, manager, OB, koordinator, penanggung jawab, teknisi. Yah, memang pada kenyataannya seperti itu. Kita harus bisa menjadi sekretaris yang mengurus dokumen-dokumen perusahaan kita, baik itu laporan hasil pekerjaan ataupun laporan expense keuangan. Kita juga harus bisa menjadi seorang manager yang mengatur jadwal maintenance pemeliharaan perangkat. Kita juga harus menjadi OB yang menjaga kebersihan perangkat kita. Kita juga harus menjadu koordinator yang mengkoordinir teman-teman bila ada suatu problem dan mengkoordinasikannya dengan kantor pusat. Kita juga harus menjadi teknisi yang bila ada kerusakan atau permintaan kita harus memperbaikinya. Yah, itu semua menjadi tanggung jawab kita. Dan itu semua harus dikerjakan secara efektif dan efisien dengan tekanan lingkungan sekitar yang sadisnya minta ampun.
Bandingkan jika kita bekerja di kantor pusat. Kita hanya menjadi seorang teknisi, itu pun kalau kita tidak mampu kita bisa meminta bantuan ke teman yang lebih senior. Yaaah meskipun gaji pas-pas an, tapi yang penting kan kepuasan hati, dan kepuasan hati tidak bisa didapat dengan uang sebanyak apa pun. Saat akhir pekan bisa pulang ke rumah, menemui keluarga dan teman-teman. Uuuh, dari dulu itu yang saya impikan. Tapi itu bisa tercapai beberapa bulan lagi mungkin.
Sekarang semuanya sudah terlanjur, saya tidak bisa menarik kembali kata-kata saya sewaktu menerima pekerjaan di luar pulau. Saya juga tidak boleh terus terpuruk meratapi nasib yang menuntut fisik dan mental untuk bertahan. Yang saya bisa lakukan hanya berusaha melakukan yang terbaik setiap harinya, hingga suatu saat saya bisa pulang dan impian saya terwujud. Sering saya berbisik pada hati kecil ini "Lebih baik mati sebagai pejuang, daripada pulang sebagai pecundang dan akhirnya mati juga". Yup, lebih baik menangis dalam perjuangan disini, daripada kabur pulang ke rumah dan nanti ketahuan sama kantor pusat dan akhirnya mati dipecat secara tidak terhormat.
Jadi buat para sobat, jalanilah hari-harimu dengan penuh keikhlasan. Temanku pernah berkata
"SAAT INI ADALAH SAAT TERBAIK
TEMPAT INI ADALAH TEMPAT TERBAIK".
6 comments:
ceritanya curcol gitu kak :D
curcol teh gimana???
curcol teh sama dengan curhat colongan,itu teh cerita kak irwan pas kerja di luar kota kan??..
iyah....hheu....kan sekarang lagi di luar kota...
kapan balik ka?
gau tau nih.....udh lama gak update blog euy,,,bingung mau update apa....
Post a Comment