Sirah Nabawi bag. 2
Wednesday, February 24, 2016 | Irwan_Koq
Masa Turunnya Wahyu dan Dakwah
A. Awal Turunnya Wahyu
Kerusakan dunia saat itu sudah mencapai titik klimaks. Penyembahan terhadap patung dan berhala menyebar di seluruh penjuru dunia terutama bangsa Arab. Mereka membuat patung dari tanah liat setelah itu mereka sembah dan meminta padanya. Akal dan fitrah manusia sudah rusak dan hilang. Riba, pacaran, perzinaan, minuman keras, perjudian, pencurian, dan berbagai macam kemaksiatan menyebar bahkan dianggap biasa. Alloh memberikan ilham kepada Muhammad akan kerusakan ini. Beliau pun sering memikirkan kondisi umat yang telah rusak parah tersebut dengan menyendiridi gua Hiro' di ujung Mekkah. Saat itu usia beliau hampir mendekati 40 tahun. Beliau melakukan pengasingan ini selama kurang lebih 3 tahun sebelum diturunkan wahyu Alloh. Inilah masa persiapan menjadi nabi dimana Alloh telah membersihkan jiwanya dari kesyirikan dan berbagai keyakinan yang tidak benar.
Sampai akhirnya Alloh mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi di gua Hiro'. Saat itu usia beliau genap 40 tahun. Jibril pun mendekap Nabi dan mengajarkan pada nabi untuk membaca yang diturunkan Alloh. Ayat yang pertama kali turun adalah surat Al-'Alaq ayat 1-5.
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya." (Q.S. Al-'alaq, 1-5)
Nabi mengulang bacaan ini bergetar tubuh perkasanya. Ayat-ayat yang agung tersebut begitu berat terasa di dalam jiwa. Tubuh Nabi pun demam menggigil kedinginan dan pulang meminta diselimuti istri beliau Khodijah setelah menjadi istri beliau. Sejak saat diturunkan ayat itu Muhammad telah resmi diangkat menjadi Nabi utusan Alloh. Tidak lama kemudian maka turunlah wahyu kedua yaitu surat Al-Muddatstsir ayat 1-5.
"Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah." (Q.S. Al Mudatsir : 1-5)
B. Dakwah (Sirriyah) secara sembunyi sembunyi
Ayat-ayat tersebut begitu menggetarkan dada Nabi. Babak baru mulai dibuka dengan menyampaikan wahyu dari hati ke hati. Dimulai dari keluarganya sendiri kemudian kerabat dan kawan dekat. Masuk islamlah seperti Khodijah istri beliau tercinta, Abu Bakar ash Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Keluarga Yasir, Utsman bin Affan, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdulloh bin Mas'ud dan banyak sahabat lainnya masuk islam. Karena ancaman yang nyata dari kafir Quraisy maka dakwah saat itu masih bersifat sembunyi-sembunyi di malam hari. Namun kondisi tersebut justru menjadikan mereka teguh karena yang mereka pegang adalah kebenaran sejati.
Mereka bergerak rapi dengan komando Rosululloh. Jiwa-jiwa yang tadinya tenggelam dalam lumpur Jahiliyah mulai bersinar kembali dengan cahaya Islam. Ayat-ayat Alloh yang suci menjadikan mereka sadar bahwa penyembahan terhadap berhala adalah kesesatan. Selama 3 (tiga) tahun Nabi dan para sahabat berdakwah sembunyi-sembunyi di Mekah. Melihat dakwah islam mendapatkan banyak sambutan, maka dedengkot kafir Quraisy pun geram. Mereka mulai merintangi pengusung dakwah. Nabi pun mulai dituduh penyihir, dukun, penyair, bahkan orang gila dan pemecah belah ummat. Namun tuduhan-tuduhan itu tak sedikitpun menjadikan Nabi dan para sahabat mundur. Mereka justru semakin gigih dan solid.
Berbagai penyiksaan mulai dilakukan kafir Quraisy kepada para budak dan orang miskin. Yasir cdan istrinya (Sumayyah) disiksa dan dibunuh di depan anaknya sendiri yaitu Yasir. Bilal diseret ke padang pasir dicambuk dan ditindih batu besar dibawah teriknya matahari Mekah. Abu Bakar dikeroyok dan digebukin saat menyampaikan ayat dan melindungi Nabi sholat di Ka'bah. Bahkan Nabi sendiri pernah dicekik saat sholat di Ka'bah. Luar biasa sekali ujian iman pada saat itu.
Semua itu ternyata tak menjadikan mereka goyah sedikitpun. Justru militansi mereka muncul disaat kondisi yang sulit itu. Kematian seolah bukan satu hal yang menakutkan bagi mereka. Karena mereka sadar bahwa kematian mereka dalam kemuliaan Islam. Kecintaan mereka kepada islam mampu memberikan kenikmatan yang terasa lebih manis daripada pahitnya siksaan.
C. Dakhwah Jahriah (secara terang -terangan)
Setelah tiga tahun dakwah secara sembunyi-sembunyi tak diduga ternyata banyak orang yang masuk islam. Kekuatan islam pun meningkat dan dakwah pun semakin menggema di sudut-sudut kota Mekah. Orang kafir pun mulai membuat cara untuk membendung dakwah Islam. Segala cara telah mereka tempuh tapi tidak mempan untuk menghentikan Islam. Di masa dakwah jahriah ini Nabi mulai naik ke bukit Shofa dan mengumpulkan manusia untuk berdakwah. Sekitar sepuluh tahun Nabi dan para sahabat berdakwah terang-terangan. Hasilnya orang sekelas Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthalib dengan izin Alloh bisa direkrut masuk Islam dan berjuang di dalamnya.
Mulailah fase ini juga Rosululloh berdakwah di luar Mekah. Nabi mulai mencoba dakwah di kota Thaif yang terletak di samping kota Mekah. Dengan ditemani Zaid bin Haritsah beliau berjalan beliau berjalan melintasi padang pasir yang tandus bebatuan. Tak mengharapkan dari dakwahnya harta tahta dan wanita. Hanya yang diinginkan yaitu manusia bertauhid kepada Alloh SWT. Sekitar sepuluh hari beliau berdakwah di Thaif menyeru para pembesar sukunya masuk Islam. Namu karena kesombongan akhirnya mereka terhalang mendapat hidayah. Bukan ramah tamah yang didapatkan Nabi, akan tetapi cercaan dan cacian. Bahkan Nabi yang mulia diusir dan dilempari batu. mereka mengusir Nabi seperti halnya mereka sedang mengusir seorang penjahat. Padahal yang duhadapan mereka adalah seorang utusan Alloh. Kaki Nabi pun bercucuran darah karena lemparan batu. Begitupun Zain bin haritsah juga berdarah-darah karena melindungi Nabi. Saat yang sedih dan pilu itu Nabi tidak berputus asa. Justru Nabi khusyu berdo'a dan memohon untuk kebaikan umatnya yang menyia-nyiakannya. Bahkan Nabi ditawari oleh malaikat Jibril dan malaikat penjaga gunung untuk menimpakan gunung kepada penduduk Thoif. Namun Nabi bukanlah orang yang membalas keburukan dengan dendam. Justru Nabi menolaknya dan berharap mudah-mudahan akan terlahir dari mereka generasi baru yang menyembah Alloh SWT.
Di fase dakwah jahriah ini Nabi dan para sahabat mulai menyusun strategi dakwah dengan menawarkan dakwah kepada penduduk di luar Mekah. Di samping itu musim haji yang pernuh berkah dijadikan kesempatan emas Nabi dan para sahabat untuk merekrut jama'ah haji masuk Islam. Karen orang jahiliyah pun pada saat itu juiga melaksanakan haji namun pelaksanaanya telah disimpangkan. Mereka thowaf dengan telanjang dan menaruh di sekitar ka'bah ratusan patung untuk menandingi Alloh. Jadi pada hakikatnya mereka tetap musyrik walaupun menjalankan haji. Karena yang mereka sembah bukan Alloh, mereka berdo'a bukan kepada Alloh, melainkan kepada patung-patung batu yang bisu dan kaku.
Banyak penduduk Madinah yang masuk Islam saat berhaji. Bahkan mereka berbai'at (sumpah setia) di Aqobah untuk mendengar dan ta'at kepada Alloh dan Rosul-Nya dalam keadaan malas dang semangat, berinfak dikala lapang dan sempit, selalu amar ma'ruf nahi munkar, tidak takut celaan orang yang mencela serta melindungi Nabi sebagaimana melindungi keluarga sendiri.
0 comments:
Post a Comment